
Rumah Angker Anneke van Deventer
Warisan Tragedi Cinta dan Kematian di Zaman Kolonial
Prolog: Kepergian yang Pahit dari Tanah Hindia
Tahun 1950, lima tahun setelah Indonesia meraih kemerdekaannya, Hendrik van Deventer berdiri gemetar di beranda rumah megah miliknya. Sebelumnya, ia mendesain rumah ini khusus untuk putri semata wayangnya, Anneke van Deventer. Namun kini, rumah itu terasa seperti kuburan besar. Surat pengusiran dari pemerintah Indonesia tergenggam erat di tangannya. Oleh karena itu, ia harus meninggalkan tanah yang sudah menjadi rumahnya selama 40 tahun.
Hendrik bukan lagi lelaki perkasa yang menguasai Perkebunan Teh Gunung Sari. Sekarang, ia hanya seorang duda tua yang sakit-sakitan. Terlebih lagi, kematian Anneke di tangan Cornelis delapan tahun sebelumnya menghancurkan hidupnya. Akibatnya, penyakit ginjal yang ia derita semakin parah oleh kesedihan yang tak tertanggungkan.
“Anneke… maafkan ayah,” bisiknya pada angin malam. Sementara itu, matanya memandang ke arah paviliun di sudut kebun—tempat terakhir putrinya bernafas. Wasiatnya menulis dengan tegas dalam bahsa belanda:
“Dit huis is het graf van Anneke’s ziel. Laat hem hier blijven.” Hendrik besloot het huis niet te verkopen.
artinya dalam bahsa indonesia
“Rumah ini adalah kuburan jiwa Anneke. Biarkan dia tinggal di sini.” Hendrik memutuskan untuk tidak menjual rumah itu.
Bab I: Penghuni Pertama dan Teror yang Menyertai
Keluarga Suryadi dan Mimpi Buruk di Kamar Anneke
Keluarga Suryadi menempati rumah itu tahun 1951. Awalnya, mereka menganggap peringatan Hendrik hanya takhayul orang Belanda. Namun kemudian, kekeliruan itu segera mereka sadari.
Minggu pertama di kamar Anneke, putri sulung mereka, Sari, terbangun setiap jam 3 pagi. Tepatnya, ia merasa ada yang mencekik lehernya. Dengan suara gemetar, ia melapor: “Ada perempuan cantik berambut pirang menangis di sudut kamar.”
Di samping itu, suaminya, Pak Suryadi, menganggap itu mimpi buruk. Sampai akhirnya, suatu malam ia melihat sendiri bayangan wanita berpakaian putih berjalan dari kamar Anneke menuju paviliun kebun.
Kejadian Aneh yang Semakin Menjadi-jadi
Cermin di kamar mandi utama selalu berembun membentuk tulisan “Cornelis” setiap pagi. Suara tangisan perempuan terdengar dari kamar Anneke tepat tengah malam. Yang paling mengerikan, setiap kali ada tamu pria muda tampan berkunjung, benda-benda di rumah berjatuhan sendiri—seolah-olah Anneke masih dirundung cemburu.
Setelah dua tahun hidup dalam ketakutan, keluarga Suryadi pindah. Dengan kata lain, Pak Suryadi berkata: “Rumah itu milik hantu noni Belanda. Dia cemburu pada siapa pun yang bahagia di rumahnya.”
Bab II: Era 1970-an dan Pengulangan Tragedi
Keluarga Hartono dan Renovasi Fatal
Tahun 1975, keluarga Hartono membeli rumah itu. Sebagai contoh, mereka baru kembali dari Amerika dan merenovasi total rumah. Kamar Anneke mereka hancurkan untuk dijadikan ruang keluarga modern. Sayangnya, keputusan ini menjadi kesalahan fatal.
Malam Peresmian yang Mencekam
Pada malam peresmian rumah, putra mereka, Adi, membawa pacarnya, Maya, untuk menginap. Ketika Maya menggunakan kamar mandi bekas kamar Anneke, air keran tiba-tiba berubah menjadi merah seperti darah.
Di sisi lain, cermin di hadapannya menampakkan bayangan wanita berambut pirang dengan mata biru kosong. Sosok itu berdiri tepat di belakangnya.
“Kau merebut rumahku,” bisik suara dingin di telinga Maya.
Akibatnya, Maya terjatuh dan kepalanya terbentur wastafel. Meskipun ia selamat, trauma berat membekas. Oleh karena itu, keluarga Hartono menjual rumah itu dengan cepat. Selain itu, cerita tentang “Noni Belanda Penunggu Rumah Tua” menyebar ke seluruh Bandung.
Bab III: Penyelidikan yang Menguak Tabir Masa Lalu
Tim Mahasiswa dan Pengalaman Spiritual Rani
Tahun 1998, sekelompok mahasiswa sejarah tertarik dengan rumah tua bergaya art-deco itu. Sebagai hasilnya, mereka mendapat izin meneliti rumah sebagai bagian studi arsitektur kolonial.
Diantara mereka ada Rani, mahasiswi yang sensitif secara spiritual. Pada hari pertama penelitian, Rani pingsan saat memasuki ruang bawah tanah. Setelah siuman, ia menggambarkan visi mengerikan.
“Saya melihat wanita Belanda muda ditembak dua kali di paviliun kebun,” kata Rani dengan suara bergetar. “Pertama, dia tidak marah kita di sini. Kedua, dia hanya ingin ceritanya diketahui. Namanya Anneke. Terakhir, dia dibunuh karena cemburu.”
Arsip yang Membuka Kebenaran
Selanjutnya, penelitian arsip membawa mereka pada kisah nyata yang terkubur. Khususnya, Anneke van Deventer, putri pengusaha perkebunan teh, tewas dibunuh oleh tunangannya sendiri, Cornelis de Vries, tahun 1942.
Di samping itu, mereka juga menemukan catatan pengadilan kolonial. Contohnya, Cornelis bunuh diri di sel penjaranya seminggu sebelum eksekusi.
“Menurut penjaga penjara tua,” tulis laporan mereka, “Cornelis terus menerus berteriak ‘Anneke, maafkan aku!’ setiap malam. Kemudian, suatu pagi, mereka menemukan tubuhnya gantung diri. Selain itu, di dinding sel, tergores dengan kuku: ‘Dia masih menghantuiku.’“
![]()





